Apakah yang Kamu Cari?

Pertanyaan Yesus (1)

Minggu, 13 Pebruari 2011

Apakah pertanyaan itu? Mengapa orang bertanya? Dalam kehidupan manusia bertanya  adalah gejala berbahasa yang sangat lumrah. Orang bertanya karena ingin tahu tentang sesuatu. Tetapi ada pula orang yang sudah tahu namun masih “bertanya.” Ada pula pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Jadi ternyata ada beberapa fungsi dari ‘bertanya’ itu, dan Tuhan Yesus juga menggunakan pertanyaan-pertanyaan untuk mengajak para murid memahami secara benar arti dan makna dari mengikut Dia, atau dengan istilah lain makna dari kemurid-an itu. Pada dasarnya pertanyaan-pertanyaan Tuhan Yesus mempunyai makna transformatif, artinya menggugah manusia untuk keluar dari kebiasaan-kebiasaan rutin, menjadi terbuka untuk masuk ke dalam suatu dunia kehidupan yang baru, yaitu Kerajaan Allah yang sudah dibawaNya ke dalam dunia ini. Matius merekam kira-kira 85 pertanyaan Yesus, Markus 64, Lukas 91, Yohanes 52, dan Kisah Para Rasul 3. Marilah kita menyimak beberapa dari pertanyaan-pertanyaan itu.

 

Pertanyaan pertama yang kita akan renungkan adalah dari Injil Yohanes pasal 1, ayat 38. Sejak awal Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita semua, apa yang kita cari dengan menjadi murid Kristus atau orang Kristen. Kisahnya bermula dari dua orang murid Yohanes yang setelah mendengar kesaksian gurunya tentang Sang Anak Domba Allah itu lalu mengikuti Yesus. Yohanes sendiri saat itu dianggap oleh masyarakat sebagai seorang guru yang hebat, berkharisma sekaliber Elia. Sekarang Yohanes menunjuk ke Yesus sebagai Dia yang membuka tali kasutNyapun ia tidak layak. Tetapi penampilan Yesus kala itu masih sebagai guru yang biasa-biasa saja, belum menunjukkan kelebihanNya ketimbang Yohanes. Wajar kalau Yesus bertanya, ‘apakah yang kamu cari?’ Jangan sampai ada orang yang ternyata kemudian salah karena mengharapkan hal-hal yang bukan merupakan misi dari Yesus. Ini terjadi, ketika beberapa waktu kemudian ternyata Yesus mengemukakan ajaran dan praktek kehidupan yang berbeda dari yang mereka harapkan. Banyak orang yang meninggalkan Yesus, dan Ia sendiri lalu bertanya kepada mereka yang tersisa, ‘Apakah kamu tidak mau pergi juga?’ (Yoh.6:67). Yesus mau supaya setiap orang yang mengikut Dia benar-benar sadar, sepenuh hati, tahu akan tugas dan risikonya.

Butir kedua yang terkandung dalam pertanyaan Yesus adalah keaslian, ketulusan, kejujuran; hal ini dinyatakan ketika Dia menyapa Natanael, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (Yoh.1:47). Saya meng-ajak jemaat untuk membahas masalah ini lebih lanjut, yaitu berkenaan dengan keadaan kehidupan kita zaman ini. Ini berkaitan dengan masalah pencitraan, satu istilah yang semakin populer dalam masyarakat Indonesia. Pencitraan itu sendiri sebenarnya baik, setiap orang bahkan harus mencitrakan dirinya sebagai orang yang baik, taat beragama, dst; tetapi hal ini harus dilaksanakan dengan tulus. Tidak boleh ada kepura-puraan. Mudahkah mencitrakan diri de-ngan baik? Ternyata juga tidak. Seorang ahli psikoanalisis yang terkenal, Sigmund Freud, mengemukakan bahwa dalam diri manusia ada id (alam bawah sadar), ego, dan superego. Ketiga instansi ini selalu berproses dalam menentukan tingkah laku manusia (kita tidak akan membahasnya di sini). Manusia tidak dapat bertindak semau egonya sendiri; ada superego yang “mengatur.” Saya sekarang mengajak Anda untuk mengikuti alur pemikiran dari seorang murid Freud yang bernama Jacques Lacan. Ia mengembangkan teori keterpisahan anak dan ibunya yang dalam teori Freud disebut Oedipus Complex. Keterpisahan atau “kehilangan” itu harus dikelola dengan baik sehingga sang anak dapat “menemukan” egonya. Lacan kemudian melanjutkan teori ini; ia mengatakan:  ada proses ‘hasrat – hilang’ dan ini terjadi secara terus menerus (siklikal)dalam sepanjang hidup manusia. Manusia mencari (= hasrat), menemukan, tetapi juga selalu ditandai dengan perasaan kehilangan. Ia mencari, menemukan, sejenak merasa puas untuk kemudian kecewa lalu mencari-cari lagi. Lacan melihat gejala ini mencolok sekali dalam kehidupan masyarakat modern di Barat (kapitalisme liberal). Mengapa ‘Diet Coke’ diluncurkan? Mengapa “decaffeinated coffee” digemari banyak orang? Itu hanya sedikit contoh proses ‘hasrat – hilang’ tersebut dimanipulasikan dalam suatu industri, bagaimana orang yang kepingin ‘coca cola’ dapat melahap “coca cola” tanpa berisiko bagi kesehatannya, tetapi juga tanpa mengecap ‘coca’ yang asli; orang berhasrat minum kopi tanpa perlu menyerap kafeinnya, dst. Mereka kehilangan unsur-unsur asli yang membentuk kedua jenis minuman itu. Tidak perlu yang asli! Ini slogan yang “berbahaya.” Sekarang produksi ‘diet coke’ dan ‘kopi dekafein’ itu sangat besar omzetnya; seorang filsuf – Slavoj Zizek - menyebutnya ‘industri kepura-puraan.’ Lalu, apa hubungannya dengan hidup keberagamaan dan kemuridan yang menjadi tema kita? Kalau kepura-puraan dan pencitraan diri yang tidak tulus itu semakin menggejala dan merajalela di dunia ini –termasuk Indonesia- maka bukannya tidak mungkin kita juga dapat terjerumus ke dalam gaya hidup seperti itu. Suatu ide/gagasan yang terus-menerus ditanamkan ke dalam diri sese-orang akan mengendap dan secara tidak sadar mewarnai kehidupan sehari-harinya. Contoh dalam kehidupan beragama, ‘Mengapa ada “gereja” yang senangnya sengaja mengadakan ibadah di mal dan hotel berbintang?’ Maaf, kita tidak boleh “menghakimi” (karena kita juga tidak tahu alasan dan latar belakangnya) tetapi dari fakta itu kita perlu berefleksi mengenai keberadaan Gereja di dunia, yakni bertumbuh, bersaksi, di tengah dan di dalam lingkungan alamiahnya. Pemberitaannya harus mengenai keadaan konkrit dari wilayah di mana Gereja itu berada, dalam konteks Indonesia jelas keadaan sehari-hari di mana kehidupan sosial ekonomi dan politik tidak menunjukkan keberpihakan kepada rakyat kecil. Mal dan hotel berbintang bukan symbol dari kehidupan orang banyak sehari-hari. Jangan sampai ‘kita mencari Tuhan Yesus tetapi kehilangan Dia dan misiNya.’ Sekali lagi, kita tidak “mengadili” perayaan-perayaan kristiani di mal-mal atau hotel-hotel, tetapi saya hanya melontarkan kembali petanyaan Yesus: “Apakah yang kamu cari dari padaKu?” Kepura-puraan (artinya, ketidak-aslian) dapat saja menghinggapi setiap orang Kristen, setiap gereja, termasuk GKI.

Baiklah setelah uraian yang agak ruwet di atas (maaf) marilah kita kembali ke pokok tulisan ini. Pertanyaan Tuhan Yesus pasti juga ditujukan kepada kita masing-masing. ‘Apakah yang kamu cari dari padaKu?’ Wajar kalau kita meng-harapkan  rumahtangga yang harmonis, bisnis yang lancar, kesehatan, kekayaan, jodoh, dsb. Tuhan memang menjanjikan kehidupan yang baik bagi setiap anak-anakNya. Tetapi Dia juga realistis, artinya Dia tahu bahwa dalam kehi-dupan di dunia ini pasti ada banyak persoalan dan kesulitan juga. Dalam panggilanNya Tuhan Yesus menyatakan pula tentang salib dan kuk yang harus dipikul para muridNya (Mat.11:28-30). Contoh klasik dari kemuridan yang sejati dalam zaman modern –yang sering dikutip- adalah kehidupan pendeta Dietrich Bonhoeffer (1909-1945). Ia dengan sadar menentang fasisme Nazi yang jelas-jelas bertentangan dengan iman Kristen. Ia menulis buku ‘The Cost of Discipleship,’ (‘Biaya/Harga dari Kemuridan’), dan ia ditembak hanya dua minggu sebelum Sekutu menaklukkan Jerman. Jika Yesus bertanya kepada Anda dan saya, “Apakah yang kamu cari dari padaKu?”, apakah jawab kita?

(Liem Sien Kie)

 
 

Translate

Please wait while JT SlideShow is loading images...
Photo Title 1Photo Title 2Photo Title 3Photo Title 4Photo Title 5

Jajak Pendapat

Bagaimana menurut anda website ini ?
 

Kalender

«  July 2014  »
SunMonTueWedThuFriSat
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031 
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini462
mod_vvisit_counterKemarin2212
mod_vvisit_counterMinggu Ini2905
mod_vvisit_counterMinggu Lalu12766
mod_vvisit_counterBulan Ini229305
mod_vvisit_counterBulan Lalu192752
mod_vvisit_counterSeluruh Hari9393167

We have: 1 guests, 6 bots online
Your IP: 54.197.108.124
 , 
Today: Jul 29, 2014
Top 10:
China flag 62%China (569)
Unknown flag 17%Unknown (154)
Russian Federation flag 5%Russian Federation (42)
Indonesia flag 4%Indonesia (33)
Ukraine flag 3%Ukraine (28)
Germany flag 2%Germany (20)
Brazil flag 2%Brazil (17)
France flag <1%France (5)
Latvia flag <1%Latvia (5)
Italy flag <1%Italy (4)
914 visits from 30 countries

GKI Gading Indah Twitter